instruksi.co.id, Way Kanan – Keberadaan komunitas-komunitas Vespa ekstrem dengan tampilan modifikasi yang terkesan nyeleneh kerap mencuri perhatian publik. Ada yang seakan membawa sampah, botol-botol bekas, hingga rongsokan saat berkendara di jalan raya. Tak hanya motor yang dianggap aneh, penampilan sang pengendara Vespa ekstrem juga sering dicap sebagai gembel atau gelandangan.
Seperti diakui oleh Dedek Dan Cinta Vespa, salah satu anggota Comunitas Roso Mempesona atau disingkat Corona asal Jawa Barat.Ada Yang dari Tangerang Ia bersama komunitas Corona datang ke Vespa World Days (VWD) independen 2024 dari rumah, sampai Sabang, Aceh dan telah menempuh perjalanan sekitar satu tahun.
Sekilas, tampilan motor Vespa yang dikendarainya sudah dimodifikasi sedemikian rupa. Setang motor agak tinggi, body motor berwarna hitam penuh coretan. Vespa tersebut juga dibikin sespan atau gandengan samping dengan besi-besi bekas yang dilas, lalu dipasangi roda yang cukup banyak.
Dedek Dan Cinta mengakui perjalanan mereka naik Vespa ekstrem memang terkesan menggelandang di jalanan. Namun, ia sedih jika ada tudingan miring yang menyebut mereka gelandangan atau gembel.
Cerita Komunitas Vespa Ekstrem, independen Touring Berhari-hari
“Saya sudah dengar tudingan-tudingan seperti itu, tapi gaya perjalanan kami memang begini. Istilahnya apa adanya saja hingga sampai tujuan. Tidur dan istirahat di mana saja, makan tidak teratur, kadang habis uang, bermasalah mesin. Tapi kami bukan gembel atau gelandangan. Sedih dengan tudingan itu tapi hadapi saja dengan senyuman,” ucapnya saat ditemui Awak Media Instruksi.co.id dan Media klik Today.com di Jalinsum Bumi Ratu, bedeng menuju Way Kanan, Rabu (2/7/2025).
“Jadi gaya kami memang begini, tapi kami bukan gembel, gelandangan, atau sejenisnya. Anak Vespa independen itu petualang jalanan, sebutlah kami demikian,” ujarnya.
Ia juga menceritakan pengalaman paling berkesan selama 1 tahun bersama komunitas Vespa ekstrem independen. Menurut Dedek Dan Cinta, justru ketika sedang tertimpa masalah contohnya saat touring luar pulau pernah mengalami masalah tali gas putus, busi, selang bensin putus, sekaligus kehabisan uang.
“Tapi semua dapat teratasi berkat bantuan teman-teman sesama komunitas Vespa dan warga juga ikut membantu sampai kami melanjutkan perjalanan. Itu berkesan buat saya, justru duka selama perjalanan itu membekas sekali.Tapi untungnya tali rem tidak pernah bermasalah,” imbuhnya.
Ia berpesan kepada sesama anak komunitas Vespa untuk tetap menjadi diri sendiri, menjadi anak baik dalam perjalanan, dan tetap solid untuk saling membantu walaupun sebenarnya keadaan diri sendiri juga sulit.
“Semua tergantung diri sendiri, bagaimana membawa diri di tengah masyarakat selama touring. Jadilah anak vespa yang solid dan baik. Jadilah demikian, karena kita ini petualang, bukan gelandangan apalagi kriminal,” tandasnya.
Bekerja Sambil Jalankan Hobi
Sementara itu, keseharian dedek,Cinta di Jember adalah menjalankan bernama Vespa yang sudah ditekuninya sejak masih mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) . Selain itu, rasa persaudaraan yang tinggi antarsesama anggota komunitas juga membuatnya betah berkecimpung di komunitas Vespa ekstrem.
VWD 2022, Bengkel Spesialis Vespa di Jembrana Ketiban Berkah
“Sudah hobi sejak SMP utak-atik mesin Vespa khususnya jenis PX yang menurut saya legenda. Dari situ perlahan terbentuk Corona dan berpetualang lah saya bersama rekan-rekan dari Jember sudah sampai Sabang, Aceh, dan sekarang ada di Lampung Way Kanan,”
Empat angota berkaus hitam mendorong sebuah vespa butut yang dimodifikasi secara ekstrem menyerupai mobil gerobak di Jalan Lintas Sumatera atau (Jalinsum). Mereka beristirahat di wilayah Bedeng Bumi Ratu , Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung, pada Rabu Juli 2025.
Tampilan mobil gerobak begitu nyeleneh lantaran sarat aksesori barang bekas. Ada botol minuman dan botol oli yang tertata rapi, saling bersambung hingga menutupi empat sisi bagian tengah kabin, yang sepintas berbentuk bak truk persegi panjang.
Sekitar 60 kilometer dari mobil gerobak tadi, Awak Media instruksi.co.id dan media Klik Today.com kembali menjumpai dua kelompok vespa ekstrem di Jalintimsum Desa Kampung Bedeng Bumi Ratu , persis di seberang Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Bumi Ratu Way Kanan. Mereka berhenti akibat salah satu mesin mobil gerobak ngadat dan sedang diperbaiki.
Jumlah anggota komunitas vespa ekstrem independen ini sekitar 4 orang, lebih banyak dari pegiat vespa ekstrem. Keragaman ornamen dan banyaknya barang bawaan membuat penampilan mobil gerobak ini lebih nyeleneh dan sangar.
Lebar mobil gerobak nyaris selebar badan jalan dan bodinya bertingkat dua. Setiap tingkat dikelilingi rajutan tali mirip paranet maupun jaring. Rajutan tali bersimpul pada delapan tiang bambu dan ada satu tiang kayu. Potongan terpal dan spanduk lusuh dipakai untuk menutupi bagian atas “kabin penumpang”.
Berjejal barang-barang bekas di setiap lantai. Gitar, ban dalam dan ban luar vespa, galon air minum, jeriken, contong atau basung plastik, ember, tandu berayun alias tempat tidur gantung (hammock), kerucut lalu lintas (traffic cone), ratusan botol air mineral, serta dua unit vespa yang ditaruh di masing-masing mobil gerobak, lengkap dengan peralatan bengkel dan onderdilnya.
Ujung bambu yang tersisa ditutupi kerucut lalu lintas, sekaligus menjadi tiang umbul-umbul aneka warna. Terdapat pula beberapa tulisan pada umbul-umbul maupun bodi, antara lain “Balungan Kere”, “wes tau jeru”, “Columbus”, dan “Scooter Payah Tatto Jawa Sumatra”. Ada pula tiga monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), yang menurut mereka, pemberian penduduk lokal.
Seorang anggota komunitas vespa ekstrem, mengatakan, masyarakat sering mencap negatif karena penampilan mereka yang kumuh dan bertato. Mereka sering dianggap suka mengganggu ketertiban masyarakat dan membahayakan keselamatan pengguna jalan. Dedek Dan Cinta mengaku heran kepada siapa saja yang dengan mudah menghakimi mereka. Padahal, menegaskan, mayoritas anak vespa ekstrem tahu tata krama di jalan dan bersikap baik kepada masyarakat. “Kami biasa saja menyikapi semua stiga negatif itu. Enggak dendam,” kata Dedek Dan Cinta dan rekan rekan pemuda asal Jember, jakarta,Tangerang .
Mobil gerobek milik komunitas vespa ekstrem atau vespa gembel di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Desa bumi ratu , Kabupaten Way Kanan.
mengatakan, mereka berangkat dari Rumah Jawa Barat, Satu tahun lalu. Tidak semua anggota rombongan berangkat dari titik keberangkatan yang sama. Daerah asal mereka juga beragam. Selain ada anggota rombongan yang berasal dari Jember seperti dedek, Cinta dan rekan rekan Jakarta, Tangerang, Jambi, Bengkulu, dan Pekanbaru. Kendati berangkat lima bulan lalu, ada anggota yang sudah “mengaspal” selama satu tahun.
“Kebetulan kami berketemu di jalan. Kami saling menyapa, lalu kalau ada yang mau ikut, kami tidak melarang,” kata Dedek Dan rekan rekan. “Bertambah teman, sodara. Makanya ikutlah mereka jalan-jalan berlebaran di sepanjang jalur Jawa – Sumatera. Begini kami membangun solidaritas.”
menambahkan penjelasan. Pemuda asal way kanan ini mengikuti rombongan vespa ekstrem sejak
Dedek Dan Cinta tahu betul perjalanan rombongan vespa ekstrem itu tidak punya tujuan khusus, kecuali jalan-jalan mencari jati diri, pengalaman, dan persaudaraan. Setiap anggota rombongan boleh turun di mana saja atau tetap bersama rombongan.
“Kami bisa mengenal kawan-kawan senasib di jalan yang berasal dari beragam daerah,” ujar dedek Dan Cinta.
“Moto kami ‘satu vespa sejuta saudara’. Itu sebabnya ikatan solidaritas kami sangat kuat.” Bentuk solidaritas itu dibuktikan rekan rekan dengan membiarkan siapa pun anggota rombongan menggunakan vespa miliknya untuk tujuan yang jelas, terutama buat belanja logistik. Maklum, dedek Dan Cinta dan rekan dan semua anggota rombongan harus pintar berhemat fulus.
Dedek Dan rekan rekan beberapa kali bergerak mencari bantuan untuk memperbaiki mesin vespa, membeli BBM, belanja makanan dan minuman, atau keperluan lain. Vespa menjadi andalan karena rombongan vespa ekstrem itu tak punya kendaraan siaga, kecuali satu mobil gerobak yang harus dihemat bahan bakarnya.
Umumnya mobil gerobak berjalan lambat di jalan datar; kepayahan melaju dan bermanuver di jalan berkontur turun naik, bergelombang, dan rusak. Penyebabnya tiada lain kondisi mesin yang renta, lebar bodi gerobak yang hampir selebar badan jalan, plus lantai gerobak yang cuma setinggi 20 sentimeter atau kira-kira sejengkal tangan orang dewasa dari permukaan aspal, sehingga gampang tersangkut batu, tonjolan aspal, batu besar atau benda keras lainnya.
“Kami bisa agak ngebut kalau kondisi jalan datar dan mulus,” ucap Dedek dan rekan-rekan seraya berkata sudah terbiasa terperosok di jalanan berlubang dalam. “Di situ keseruannya,” tuturnya sambil tertawa. Perbaikan mesin rusak dilakukan oleh tiga anggota rombongan. Mereka kompak dan teliti. Salah seorang di antaranya mengaku bukan mekanik. Kemampuan memperbaiki mesin dipelajari secara autodidak.
Terkadang, saat kerusakan mesinnya berat, mereka menelepon pegiat vespa ekstrem yang mahir memperbaiki mesin untuk meminta tolong. “Di internat banyak tutorial servis mesin vespa dan kendaraan lain. Terkadang saat kumpul-kumpul, kami juga diajari kawan yang jago mesin. Kalau ada onderdil yang kurang, kami bergotong-royong mencari atau membelinya,” ujarnya
Gotong royong merupakan kata kunci kekuatan solidaritas mereka. Dedek dan Cinta mengaku membawa sedikit uang. Begitu pula dengan anggota anggota lainnya. Mereka berpatungan semampunya, minimal sekadar untuk membeli minuman. Tatkala hampir kehabisan duit, mereka biasa mengamen pakai gitar dan meminta sumbangan di jalan.
Uang hasil sumbangan buat membeli rokok, biskuit dan camilan lain, tiga minuman kemasan, dan lainnya. Mereka tidak berebutan, semua dapat bagian. “Makanan segini memang tak bikin kenyang, tetapi kami juga tidak kelaparan. Kami bisa tidur di mana saja, terbiasa enggak makan dan terbiasa menahan lapar. Kami bukan orang-orang yang lemah dan gampang menyerah,” ucap Dedek Dan Cinta.
Komunitas vespa ekstrem ini bertekad melanjutkan tur panjang hingga ke Kota Sabang di Kepulauan Weh, Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Ada sedikit keraguan saat mengetahui Pemerintah Aceh memberlakukan peraturan daerah atau qanun tentang pelaksanaan syariat Islam sejak tahun 2000. Namun, mereka bergeming hendak ke sana. Mereka optimistis perjalanan mereka lancar-lancar saja sampai Sabang karena bukan kelompok berandalan.
Paling-paling nanti mereka disetop polisi karena ketidaklengkapan surat-surat kendaraan atau lantaran kendaraan mereka dinilai melanggar standar persyaratan teknis di jalan raya. “Ini jalan hidup kami. Kami tidak mengganggu siapa pun dan tidak mau diganggu. Penampilan kami memang gembel, tetapi kami bukan koruptor, bukan kriminal,” kata Dede dan rekan-rekan.
Selama berpetualang, ia mengaku selalu didukung sudah pada diri sendiri maupun keluarga besarnya. Terlebih sang kelurga yang juga seorang penggemar Vespa.
“Kegiatan saya setiap hari ya saya juga bekerja di bengkel, kadang jadi supir, sampai cari rongsokan besi tua, jadi rekan-rekan saya juga ada dari luar komunitas vespa, normal saja. Dan teman-teman komunitas masing-masing juga begitu, supaya dapur tetap ngebul. Jadi hobi dan ekonomi keluarga semua jalan bersamaan,” kata Dedek Dan Cinta sambil. (Rojali/Rls.)


